Month: December 2012

People Go Smarter

Saya baru saja nonton discovery channel, yang judulnya “Curiosity: Can You Live Forever?”. Sebuah acara yang dibawakan Adam Savage yang pada episode ini membahas teknologi yang diciptakan manusia untuk hidup selamanya.

Pertama, diceritakan bahwa Adam Savage mengalami kecelakaan di jalan raya saat mengendarai motor. Luka yang diderita sampai ke organ dalam tubuhnya. Paru-paru. Dan para dokter menyembuhkan Adam dengan sebuah cara yang menakjubkan. Dengan sebuah printer organ manusia dari sel tubuh anda sendiri. Karena berasal dari tubuh anda, maka tubuh anda tidak akan menolaknya. Organ tersebut di print layer demi layer, lalu ditransplantasi menggantikan organ asli anda. Sungguh sesuatu yang mustahil tapi mungkin dilakukan.

Selain itu, tangan kanan Adam harus diamputasi dan dengan teknologi, digantikan oleh tangan artificial. Tangan serupa robot yang dapat digerakkan dengan menyambungkannya dengan otot-otot di tangan yang masih “manusia”. Tetapi muncul beberapa ketidakpuasan. Tangan baru ini tidak dapat merespon secara refleks dan tidak dapat merasakan sakit. Lagi-lagi dengan teknologi yang ada, tangan artificial disambungkan dengan neutron2 yang terhubung ke otak, yang jumlahnya ratusan, dan digunakan kulit sintetis sebagai alat perasa yang juga dihubungkan ke otak. Betapa berharganya otak kita.

Namun, setelah beberapa lama, Adam merasakan hal yang aneh di otaknya, sepertinya ada rangkaian yang “short” dan mengakibatkan luka di otak atau apapun istilah yang disebut di film tersebut. Kemudian, dengan teknologi lainnya, yaitu robot mirip laba-laba yang sangat kecil, dan dapat berenang di liquid tubuh kita, lalu dimasukkan bersama suatu cairan ke aliran darah tubuh kita. Robot yang jumlahnya banyak mengalir bersama darah ke seluruh tubuh, dengan misi menghancurkan sistem yang rusak, berhasil mencapai otak Adam, dan menyembuhkan hal yang terjadi disana. Adam kembali selamat dari kematian. Namun ada suatu efek samping dari teknologi ini, robot tersebut tidak dapat dikeluarkan dan menjadi polisi darah anda selama anda hidup.

Permasalahan selanjutnya adalah penuaan. Penuaan bersifat alami, dimana prosesnya dirasakan oleh setiap bagian tubuh anda, tidak hanya satu bagian. Semua sel anda menua, dan menjadi malfungsi, jumlahnya semakin sedikit. Tapi sebuah jawaban dari teknologi muncul. Proses penuaan dapat direset. Caranya dengan mengeluarkan semua darah yang ada di tubuh anda, lalu menarik sel tua keluar dari tubuh anda, dan memasukkan kembali sel-sel yang sehat, dan menambahkan sel sehat baru agar jumlahnya proporsional dengan yang dibutuhkan tubuh. Dengan mengulangi proses yang mirip hemodialisa ini setiap beberapa puluh tahun, anda dapat hidup ratusan tahun.

Lalu muncul hal lain yang tidak dapat dihalangi. Otak anda mulai mengecil. Seiring dengan bertambah usia, storage di otak anda makin penuh, dan kapasitas otak anda makin kecil. Hal tersebut memang belum dapat dijawab oleh teknologi namun penelitian tentang penambahan kapasitas otak, dan otak eksternal sedang dilakukan di dunia ini. Sungguh sebuah keingintahuan manusia tidak ada habisnya.

Tapi, apakah manusia siap hidup selamanya? Di dunia yang semakin rusak ini, sangat susah mencari alasan untuk hidup selamanya. Sebagai seorang beragama, dan bukan seperti ilmuwan yang mencoba mencari semua jawaban melalui teknologi ,saya percaya bahwa hidup selamanya bukanlah sebuah jawaban, dan semakin majunya teknologi manusia adalah tanda dunia ini sudah semakin dekat dengan akhirnya.

Ego Manusia

Manusia mungkin adalah makhluk (atau binatang) yang egois. Baru saja saya mengendarai mobil di sebuah jalan di bandung, dan tibalah di sebuah pertigaan (di belokan ka kanan setelah super indo dago). Karena hujan yang besar, jalanan macet.

Untuk gambaran, jalan yang saya lalui terdiri dari 2 jalur per arah, jadi lurus 2 jalur, dan yang berlawanan arah dengan saya 2 jalur. Jalur yang saya jalani sebut saja A dan B, jalu berlawanan sebut saja C dan D. Di tengahnya dibatasi oleh pembatas jalan. Lalu ada jalur ketiga, di sebelah kiri saya, tegak lurus dengan jalan saya, sebut saja E. Di pertigaan ini, pembatas jalan tidak ada, dan mobil dari arah berlawanan dapat lurus sesuai jalannya, atau berbelok ke kanan, ke jalan E.

Saya berada dijalur dalam (jalur B), dan tepat sebelum mobil dari jalur C dapat berbelok dengan benar. Di depan sudah ada mobil yang memang berenti karena macet, di samping saya (jalur A) juga macet. Mobil dari jalur C sudah berbelok dan menunggu terbukanya jalan di jalur A dan B. lalu semakin lama, karena masih macet, jalur D juga dipenuhi mobil yang ingin berbelok ke E. Terbentuklah semi deadlock. Motor juga sudah ingin berbelok, dan karena sudah tidak muat di depan saya, saya maju, dan motor dapat melalui belakang mobil saya, ke jalan E. Nah, setelah mobil di depan saya jalan, dan tidak terlalu jauh, cuma maju sekitar 1 mobil, saya tentu memberi jalan dulu pada jalur C dan D untuk berbelok, biar lancar. Para petugas jadi-jadian juga sudah mulai muncul mengarahkan mobil-mobil agar tidak macet berkepanjangan. Setelah mobil dari jalur A juga maju, mobil di samping saya, yang juga BELUM memotong jalan C ke E, distop oleh petugas agar mobil dari C bisa ke E tentunya. Tapi ego sang pengemudi tidak ada sepertinya. Dia mepet ke mobil di depannya, yang dengan catatan, tidak bergerak juga, cuma bergerak sejauh 1 mobil. Dan sang petugas mencoba menjelaskan, dan mencoba menyuruhnya mundur lagi, tapi apa daya, mobil tetap maju dan semakin menghalangi jalur C ke E. Bahkan angkot di belakangnya sampai tidak jalan dulu, agar dia bisa mundur lagi, membuka jalan C ke E. Saya sampai membuka jendela dan sebisa saya mendukung si petugas untuk menyuruh mundur si mobil tak berprikemanusiaan ini. Tidak bisa. Dan selama 5 menit setelahnya, barulah jalur A kembali jalan, dan mobil saya dan angkot tadi tetap memberi jalan ke jalur C dan D dahulu. Setelah kira-kira sudah terlalu jauh jarak yang saya buat dengan mobil di depan, dan jalur C dan D sudah lumayan lancar, saya dim, dan jalur A dan B diberi kesempatan jalan lagi. Dan pada akhirnya, saya kembali ke samping mobil tadi.

Apakah ego manusia sebesar itu? Apakah tidak ada lagi jalur berpikir benar di otaknya?

And its over

Tidak terasa sudah satu semester lagi saya lalui di tempat perkuliahan yang – kata orang bergengsi – ini. Semester 5 sudah selesai. Sekarang saya akan memasuki masa liburan menuju semester 6, dan setelah itu merasakan kerja praktek, lalu masuk ke tahun keempat. Waktu tidak berjalan, ia berlari.

Semester ini dipenuhi banyak kejadian yang mungkin menentukan saya menjadi seseorang yang bagaimana di masa depan nanti. Dari segi pelajaran, kalau dibilang lebih rajin, tidak juga, tapi di semester ini memang dituntut untuk membaca beberapa buku secara mandiri, dan diajarkan merangkum beberapa bab dari buku dan membuat program sendiri. Tidak seperti 2 tahun sebelumnya, semester ini saya lebih banyak belajar tentang jurusan saya, Teknik Tenaga Listrik. Hal itu membuka pikiran saya tentang apa yang saya mau lakukan dan mau jadi apa saya di masa depan. Yang paling dekat, saya menentukan bahwa tidak akan mengambil S2 di bidang teknik lagi, saya ingin mengambil manajemen entah apapun itu dan dimanapun itu, tapi saya berharap luar negeri. Hal lainnya dari segi akademik yang berbeda adalah dosen yang semakin suka-suka. Ya, kebanyakan dosen jurusan ini tidak benar-benar dosen. Dosen adalah pekerjaan kedua mereka, pekerjaan pertama adalah seorang ayah atau kerja proyekan. Banyak yang lebih mementingkan keluarga, dan proyeknya.

Dari segi nilai, sangat besar kemungkinan turun, tapi mudah-mudahan tidak terlalu banyak, dan masih diatas nilai harapan saya. Mata kuliah yang nilainya tidak tahu turun dari mana sangat banyak semester ini, itu membuat saya menyerahkan semuanya pada yang di atas. Cukup mengerjakan semua ujian sebaik mungkin (walaupun kadang pasrah), dan menunggu nilai keluar. oiya, perlu anda tahu, saya tetap ikut KKR walaupun ujian, rasanya memang seperti menantang Tuhan, tapi saya tahu pasti dia akan memberi jalan terbaik bagi saya. Ingat Matius 6:33.

Semester ini juga saya menjadi seseorang yang memimpin organisasi. Saya akui saya cukup “berani” mengambil keputusan ini, tapi ini adalah pilihan massa, sehingga saya merasa harus bertanggung jawab menjalankan amanah ini. Sampai sekarang saya rasa kinerja saya biasa saja, belum ada gebrakan-gebrakan yang wah. Banyak sekali tantangan yang datang, walaupun seharusnya saya tahu hal ini pasti datang. Tapi selama ini saya masih mempunyai teman-teman yang berjuang bersama saya, menemani saya memilih keputusan-keputusan di banyak kondisi. Untuk hal menejemen dan pembagian waktu sangat banyak ilmu saya yang bertambah. Tapi di liburan ini, saya ingin fokus kembali mengonsep dari awal, karena semenjak beberapa minggu ini, fokus saya terbagi antara ujian dan organisasi, sehingga kurang maksimal. Akan ada acara besar tahun depan, dan saya penanggungjawabnya. Bagaimana rasanya? Bingung. Sangat banyak yang harus diperhatikan, tetapi sangat banyak hal lain yang menuntut diperhatikan. Inilah susahnya organisasi yang kumpul cuma 2-3 hari seminggu, dan bahkan beberapa minggu sekali bertemu dengan sebagian orangnya. Mudah-mudahan liburan ini, Tuhan membantu menunjukkan ide-ide, cara-cara, agar semuanya berjalan baik, semua demi kemuliaan nama-Nya, karena sekarang saya punya kesempatan untuk sekalian membagikan kepercayaan saya pada mereka.

Semester ini tidak lengkap kalau tidak menceritakan keajaiban Tuhan di 5 minggu terakhir. Post berjudul “god will make a way” sebenarnya adalah rangkuman dari 2 dari 5 minggu tersebut. Selebihnya, saya merasakan berkat Tuhan hari ke hari, dimana saat ujian, kepala saya selalu pusing, tapi tidak sampai jatuh sakit. Saya teringat kejadian 2 tahun lalu dimana saya sakit demam berdarah saat minggu ujian seperti ini, sangat melelahkan dan harus datang mengikuti ujian susulan saat liburan. Puji Tuhan kali ini tidak. Dan saya berterima kasih karena Tuhan menunjukkan hal yang saya nanti-nantikan dari semester 4. Memang benar berdoa tanpa bertindak tidak akan menghasilkan apa-apa. Detail tidak dapat diceritakan, karena seseorang bernama Billy berhasil menemukan blog ini dan menyebarkannya. Sudahlah, belum pasti juga, tidak boleh terlalu berharap, tapi jangan sampai jatuh ke tangan orang lain juga. Oke sebelum tertulis yang tidak diinginkan mari kita ganti topik.

Semakin meninggalkan masa remaja. Saya sudah jarang bermain game komputer, walaupun dulu juga jarang, tapi semester ini jauh lebih jarang. Untuk hal menonton tv saya masih suka nonton bola, selalu, dan saya rasa ini hanya bisa berkurang sampai “hanya menonton MU bertanding”. Untuk acara TV lainnya, lebih sering menonton Discovery Channel dan National Geographic, karena kadang lumayan menambah ilmu di bidang engineering. Selebihnya, tidak pernah nonton film di tv, tidak nonton bioskop (wah baru sadar sudah sampai umur satu semester tidak berbioskop), tapi masih mengikuti beberapa tv series lewat download ilegal. Sebenarnya lebih ke hiburan, karena lebih banyak genre komedi, contohnya How I Met Your Mother yang memasuki season terakhir, Walking Dead yang selalu jadi perbincangan teman, Family Guy dan Big Bang Theory yang menjadi hiburan pribadi, Arrows yang bercerita tentang pahlawan memakai senjata panah, Alphas yang sudah kelewatan jauh belum ditonton lagi, Everybody loves Raymond komedi keluarga yang sangat pintar dan klasik. Tidak lupa sebuah drama korea My Girlfriend is A Gumiho, hasil MLM film Juan Josua. Beberapa judul lain seperti Mythbusters, Sword Art Online yang hanya nonton beberapa. Yap, sepertinya itu saja, ternyata banyak juga. Harus dikurangi. Tapi. Sudahlah.

Dalam hal olahraga, perut semakin berat, karena jarang bersepeda, apalagi musim hujan ini. Rencana lari Saraga sudah lebih sering, tapi masih jarang. Berenang, sudah mulai, tapi baru 2 kali selama satu semester ini. Push-up harian, yap, tidak berjalan sama sekali. Mungkin yang bertambah frekuensinya adalah futsal. Itu yang menghambat bertumbuhnya perut ke depan, walaupun tidak seefektif lari dan berenang. Liburan, fix ditingkatkan. Semester depan juga. Janji pria.

Sekarang tanggal 21, yang katanya adalah kiamat orang Maya. Kiamatnya juga “maya” sepertinya. Baguslah, harusnya banyak orang yang sadar dan mencari kebenaran yang benar-benar benar sejak hari ini.

Lebih baik kita futsal hari ini. Dan sorenya ke gramedia, lalu kita pergi KKR lagi. Hasta la Vista!

Orang Buta Sejak Lahir

Pembicara : Kak Iwan

Bacaan : Yohanes 9 : 1-12

Ini adalah sebuah pembahasan Alkitab di Bible Study, yang menceritakan tentang seorang yang buta sejak lahir. Bagaimana rasanya? Kak Iwan pernah bertanya langsung pada seorang buta, dengan sopan tentunya, bagaimana ia bermimpi saat tidur? Dan ternyata, orang yang buta sejak lahir itu, hanya mendengar suara, cahaya samar-samar, pada mimpinya. Sungguh sesuatu yang membuat kita bersyukur masih dapat melihat banyak hal dalam hidup kita, walaupun banyak hal di dunia ini yang sangat tidak enak untuk dilihat oleh mata kita. Tapi bersyukurlah, karena setiap pagi Tuhan masih memperbolehkan anda melihat sinar matahari.

Ayat 2-3 Konsep zaman dahulu, yang menganggap setiap orang cacat adalah hasil dosa orang tuanya, dikatakan Yesus salah. Tidak ada yang seperti itu. Kak Iwan bercerita tentang orang tua yang buta baik sang ayah maupun sang ibu, mempunyai anak yang sangaaat cantik, dan sehat. Walaupun orang tuanya buta, namun sang anak tetap mencintai mereka seperti seharusnya.

Sering manusia melihat seseorang dari perawakan luarnya saja. Mereka menganggap apa yang mereka lihat dapat menentukan sikap mereka terhadap orang itu. Tapi Tuhan tidak pernah mengajarkan demikian.

Kata-kata Yesus berikutnya, “…agar pekerjaan Tuhan diperlihatkan dari padanya.” Sangat indah. Tahukah engau mengapa kita sakit? Jawaban utamanya tentu karena ada sesuatu yang tidak benar pada badan kita. Tapi, sakit, juga menunjukkan pada kita bahwa sehat itu mahal. Jika anda sehat sekarang, bersyukurlah, itu sebuah berkat. Satu hal lagi, sakit, membuat kita sadar bahwa kesembuhan itu luar biasa. Proses kesembuhan, tidak pernah biasa saja. Banyak sekali kesaksian yang berawal dari sini, benar, kuasa Tuhan ditunjukkan oleh banyak cara.

Saya ingin bercerita sedikit. dulu, saya mengalami sebuah retak, atau patah, saya juga kurang mengerti, pada bagian paha kiri saya. Penyakit ini jarang ditemui, kata dokter yang didatangi oleh orang tua saya. Saya menderitanya sejak usia TK. Kata dokter, jika tidak ditreatment dengan benar, kaki saya bisa panjang sebelah (kaki kiri tidak bertambah panjang). Wah, saya yang masih kecil tentu saja tidak mengerti. Tidak mengerti seberapa parah sakit ini, dan tidak mengerti seberapa sedihnya hati orang tua saya, apalagi mama saya, ketika melihat anaknya harus memakai kursi roda, tongkat selama beberapa tahun. Cerita ini akan saya tulis lagi dengan lebih detail pada post lain. Intinya, sekarang saya sudah dapat merasakan indahnya berlari, indahnya sembuh, dengan segala prosesnya, dan saya bersyukur bahwa Tuhan menjawab doa orangtua saya yang saya tidak tahu seberapa banyak air mata yang turun karenanya.

Ayat 4 Bekerjalah selagi bisa. Sebuah aturan yang simpel tapi sering dilupakan. Berapa kali kita merasakan malas ke gereja, padahal sebenarnya sanggup. Berapa banyak kita tidak memberikan persembahan, padahal ada. Berapa banyak lagi kita mau menolak membaca Alkitab, apakah ketika hukum Binatang itu muncul, baru kita mulai membaca? Berapa lama lagi kita menolak untuk bersaksi, padahal mulut kita masih bisa berkata.

Penyesalan selalu datang belakangan. Dan selalu disertai kekecewaan. Saya pernah mendengar, cerita seorang yang jarang datang ke gereja, dan ketika ia sudah di kursi roda, menderita sakit lebih dari satu, barulah ia meminta-minta diantar ke gereja, dituntun dengan kursi roda. Apakah harus seperti itu?

Ayat 6 Mengapa Tuhan mengambil tanah liat, dan menambahkan ludahnya? Apa maksudnya? Disini kita diperlihatkan bahwa kita manusia memang hanya sebuah tanah liat, tidak lebih dan tidak kurang, dan ketika kuasa Tuhan ditambahkan, bahkan walaupun hanya ludahnya, kita menjadi hidup. Kita menjadi seorang manusia. Kak Iwan menggambarkan seberapa kecilnya harga kita, dengan sebuah cerita. Seorang preman, ternama di sebuah kota, yang dimana setiap orang (preman lain) kenal dengan dia, karena dia sudah keluar masuk penjara berkali-kali. Ketika ia ditemukan meninggal, dengan hanya mengenakan celana, tidak ada yang berkesan. Tato yang sebanyak pasir di laut dan bintang di langit tidak berarti lagi, dia hanyalah tanah liat. Saya tidak menentukan dia pasti masuk neraka atau surga, tetapi di mata manusia, dia tidak lebih dari itu, semua kemegahannya di dunia kriminal hilang, tidak bersisa, tidak berguna sama sekali.

Ayat 11 Sang orang buta itu tidak menganggap ludah yang dioleskan ke matanya sebagai penghinaan. Tidak. Ia mempunyai iman. Dan imanlah yang menyelamatkannya. Seperti Naaman, ia menuruti perintah Yesus dan membasuh mukanya, dan sembuhah ia. Mengapa dia bisa percaya? Bagaimana agar kita dapat percaya?

Kenalilah Yesusmu. Kak Iwan menceritakan anaknya yang kecil, perempuan, berkata begini “Pa, aku tahu dong kalau papa yang pulang ke rumah, bunyi motor papa aku bisa bedain dari tetangga yang lain”. Dia bisa membedakan. Apa rahasiannya? Seorang anak mempunyai hubungan yang dekat dengan orang tuanya, dan seorang anak selalu menunggu orang tuanya pulang. Hubungan yang dekat dengan Yesus, dan selalu rindu kehadiran Yesus. Itulah yang bisa membuat kita sembuh dari masing-masing “kebutaan” kita.

Sekian, dan bersyukurlah

1 down, 1 flew, 5 to go

Jadi, sebenarnya seberapa pentingkah UAS atau ujian akhir semester bagi mahasiswa? Sangat penting bukan? Seperti peluru terakhir untuk menumbangkan musuh-musuh selama satu semester terakhir. Musuh tersebut tak lain adalah mata kuliah, dalam hal saya, ada 6 musuh.

Pertempuran yang berlangsung yang katanya 6 bulan, padahal cuma 3 bulan efektif, menemui 2 minggu terakhirnya. 4 musuh pada minggu pertama, dan 2 pada minggu terakhir.
Setelah menyusun strategi sehari-semalaman (sistem kebut sehari semalam), pada hari selasa, saya berhasil menumbangkan markas musuh pertama yg bernama Fort de Annoem, yg dipimpin oleh Jendral Gib, son of Sianipar. Pertempuran berjalan alot, walaupun tidak semua soal dapat diselesaikan, namun cukup untuk membuat lokasi tersebut netral kembali, sang jenderal hanya terluka, namun dia pasti kembali lagi di semester berikutnya.

Sepulangnya dari Fort de Annoem, kembali menyusun strategi. Musuh hari rabu dipisah menjadi 2, open fire dan close fire. Tentu kita lebih fokus ke close fire, karena hafalan. Saya sempatkan untuk bersemedi ke gunung pada malamnya, untuk mencari petunjuk dari dewa. Paginya, tim kembali mengulangi strategi yg direncanakan, dan siap bergerak ke High Voltage Side. Ternyata, setelah sampai disana, kosong. Djoko van Damme sudah kabur. Ke Bali. Jadi, tim pun kembali ke markas besar tanpa hasil. Esok, rencananya kami menyerang ke Machino Electrico, yang dikuasai oleh guru besar saya sendiri, Agoo Spurwadi. Dan dari sana, bebrapa dari kami lanjut memasuki Colloseum di Manpro, untuk merekrut 3 blacksmith yg dapat membuat pedang kelas A atau minimal B.

Jadi, sampai hari ini, satu pasukan musuh sudah teratasi, 1 pasukan kabur, dan sedang dicari hari penggantinya, dan esok, 2 misi sudah menunggu.

Me? Trying? Again.

What bothers?

Why am I writing this?

It is a tweet by the doc

I can’t help but read

 

At 12 I’v been spreading seed

That grows

Which then I can’t control

So I killed it

 

I’ve been seedless for years

12-12-12 it haunted me

Add guilty to my name

Am I that bad

 

Hoping

Tweet-er still a friend

Cause I’ve tried

To let go

You should too

 

I just find my new day

To live

To try again

Awkwardly

 

This day’s special

I wowed differently

And pray frequently

That this is Your way

 

Help me

Living this day

Slowly

Surely

Acara PA #1 “Sketsa”

Pertama kali dilihat pada acara PA oleh Jemaat Kayu Putih yang melayani di Jakasampurna.

Jadi, inti acaranya itu, mengajak seorang dari gereja yang dikunjungi untuk masuk dalam sebuah drama yang dia tidak tahu naskahnya. Mirip dengan “Akhirnya Datang Juga” yang dulu sempat tayang di televisi.

Berbeda dengan acara komersial tadi, disini drama yang dimainkan lebih untuk mengembangkan respon sang “pemain” dalam kondisi yang sering dihadapi oleh umat Kristen terutama Advent.

Beberapa ide drama:

1. Interview kerja. Sang pelamar masuk ke tahap negosiasi dengan perusahaan tempat dia melamar. Hari kerja, Jam kerja, gaji, dan jenis pekerjaan menjadi topik bahasan disini. Kita dapat melihat respon sang pemain saat diberikan pilihan antara kerja dengan gaji tinggi tapi masuk hari Sabat (ataupun lembur hari Jumat), atau tidak diterima di perusahaan itu.

2. Jalan dengan orang yang bukan Advent. Seringkali kita menghadapi situasi seperti ini. Makan dengan teman kita, ke restoran seafood, junkfood, atau minum-minum. Diajak nonton bioskop, atau bahkan diajak ke dunia malam. Bagaimana cara seorang Advent menghindari hal ini tanpa menyakiti perasaan temannya?

3. Ujian hari Sabat. Perkuliahan di luar Advent memang kerap menghadapi situasi seperti ini. Bagaimana cara menggerakkan hati dosen agar mau mengubah jadwal ujian atau relakah kita menjual Yesus untuk satu hari?

4. dll