He will make a way (part 1)

Dari hari jumat tanggal 30 November – 2 Desember, saya pergi bersama Ikatan Mahasiswa Advent Bandung (IMAB) ke Jogja. Tujuan dari perjalanan ini adalah pelayanan di gereja Timoho disana. Banyak yang ingin saya ceritakan, maka mari kita mulai saja.

Pertama, dari rencana pergi ke Jogja. Sebenarnya saya jarang datang ke pertemuan IMAB, namun ada seseorang bernama Kak Adhe (cie disebut loh kak) yang gatau memang hobinya ngajakin orang atau gimana, tiba-tiba saya melalui chat fb diajak ikut. Sebenarnya, banyak pergumulan saya pada saat itu, tapi karena tidak enak sama Kak Adhe, maka saya langsung bilang iya saja. Pada tanggal yang disebutkan untuk pergi sebenarnya saya ada beberapa kegiatan berdosa yang harus dilakukan. Kenapa berdosa? karena kebanyakan kegiatan itu harus dilakukan hari Sabat, padahal kalau dilihat-lihat lagi, sebenarnya semua kegiatan itu tidak cukup untuk menghalangi niat pelayanan, tapi karena iman saya yang sedang rendah saat itu, saya terlalu ingin melihat ke belakang seperti istri lot. Sampai h-3 saya bertanya pada orang tua saya, dan mereka bilang, kalau memang capek (kebetulan seminggu setelah itu adalah minggu Ujian Akhir Semester), ga usah ikut aja, bilang banyak tugas. Wah, benar juga. Tapi entah kenapa, karena saat itu hujan turun deras, saya jadi punya waktu duduk dan berpikir sebelum pulang ke kosan. Dan saya memutuskan untuk tetap ikut dan ditandai dengan mengganti jalur saya dari menuju kosan, menjadi menuju gereja Setiabudi untuk latihan nyanyi. Sampai di depan gereja setiabudi pun, saya masih bergumul. Kalau sekarang saya ingat-ingat hal itu, wah, benar-benar setan berusaha keras. Saya memutari gereja Setiabudi tanpa parkir 2x. Setelah memutuskan untuk berenti dan parkir, bahkan untuk keluar dari mobil dan menunjukkan diri, ternyata perlu pergumulan. Namun, pada akhirnya saya kembali lagi kepada Kak Adhe (wah benar-benar hebat ini kakak) dan teringat janji saya, dan saya masuk ke gereja latihan nyanyi.

Pada hari H, saya menelepon orang tua saya dan berkata bahwa saya jadi ingin ikut saja, karena ini adalah pelayanan, saya pervaya Tuhan pasti tidak akan melupakan saya. Orang tua saya terkejut dan senang dengan pilihan yang saya pilih, dan mereka berdoa dan berpesan agar saya tetap menjaga kesehatan, tidur yang cukup. Wah rasanya senang. Saya selesai packing jam 4 sore, karena entah kenapa baju gereja yang dilaundry seperti memperlambat saya karena baru selesai disetrika jam setengah 4, padahal harus ada di geereja setiabudi untuk berangkat jam 5. Lalu saya langsung pergi naik angkot, dan macet. Saya ditelepon Kak Adhe, dan untungnya sudah dekat, sehingga tidak ditinggalkan mereka. Di gereja sudah menunggu orang-orang yang belum saya kenal, kecuali Kak Adhe, Kak Gerry. Lalu setan mencoba lagi, “tuh kan gaada yang dikenal, nanti gmana mau enak disana”. Tapi sekarang tekad saya bulat, sehingga sekali itu saja perkataan setan yang muncul, dan segera hilang. Kita semua ( saya, kak adhe, kak gerry, kak elin, kak mawie, ina, samuel, kak etha ) naik angkot dari setiabudi ke arah stasiun hall. Sebenarnya billy, arthur, tina berangkat juga dari sini, tapi mereka terjebak hujan, dan untunglah mereka tetap bisa sampai di stasiun kiara condong dengan tepat wktu. Jika saya di tempat mereka, mungkin setan akan pol-pol an menghasut saya.

Setelah naik ke kereta dr stasiun hall, wah, rasanya tidak enak. Disana, banyak orang berdiri, keringat, dan hal lain yang dengan anehnya anda temui di kereta. Untung perjalanan hanya 10 menit, dan turunlah di stasiun kiara condong. Disana kami menunggu teman-teman yang lain, dan setelah jam 8, lengkap lah kami 15 orang. Dengan belum mengenal setiap orang sama sekali, saya pun diam-diam saja, cuma mencoba ikut masuk ke pembahasan yang saya bisa masuki. Di dalam kereta kahirupan ini, untungnya kami dapat tempat duduk semua, dan memungkinkan untuk pindah-pindah. Saya yang belum kenal mereka, duduk sendiri saja, dan mendengarkan lagu. Ada seseorang alumni yang selalu bergerak kesana kemari, dengan arti yang positif tentunya, dia membuat saya membaur dengan yang lain. Orang-orang seperti ini yang saya harus ucapkan terima kasih, mereka sangat berkontribusi dalam sebuah grup dengan orang-orang yang belum saling kenal (terima kasih kak edmond).

Perjalanan yang sepanjang 9 jam pun dilalui dengan mata terbuka, tertutup, dan lebih baik dilewati saja.  Sampai di jogja, kami turun dan dengan badan pegal, terpaksa olahraga jalan kaki ke gereja. Panasnya bukan main, padahal ini jam 6 pagi. Saya kebagian bacaan persembahan, yang entah strategi atau tidak, langsung ditunjuk oleh IMAB. Tapi apapun alasannya, itu berhasil membuat saya bersemangat melayani. Kami mendapat tempat menginap yang sudah dipesan terlebih dahulu oleh alumni IMAB yang datang dengan pesawat pada hari jumat, yang namanya adalah Kak Billy. Dia juga alumni ITB, pertambangan, membuat saya merasa bahagia telah ikut perjalanan ini, dan bertemu alumni ITB yang tetap aktif di gereja. Saya ingin sekali tetap seperti dia, saya tidak ingin mengecewakan orang-orang lain terutama Tuhan.

Di penginapan itu, kami menyewa 3 kamar, dengan 16 orang total yang akan tidur disana, padahal maksimal per kamarnya 3-4 orang saja. Kami makan pagi dengan menu yang lumayan enak, tapi harga yang murah. Ini sangat membingungkan kami, bagaimana bisa semua hal di Jogja ini sangat murah harganya. Kota pelajar, memang menjalankan tugasnya dengan baik, paling tidak dari segi harga. Setelah semua selesai mandi, makan, berpakaian gereja, kami pergi ke gereja. sebenarnya ada sesuatu yang membuat saya bahagia saat disini, tapi lebih baik tidak ditulis.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s