Ego Manusia

Manusia mungkin adalah makhluk (atau binatang) yang egois. Baru saja saya mengendarai mobil di sebuah jalan di bandung, dan tibalah di sebuah pertigaan (di belokan ka kanan setelah super indo dago). Karena hujan yang besar, jalanan macet.

Untuk gambaran, jalan yang saya lalui terdiri dari 2 jalur per arah, jadi lurus 2 jalur, dan yang berlawanan arah dengan saya 2 jalur. Jalur yang saya jalani sebut saja A dan B, jalu berlawanan sebut saja C dan D. Di tengahnya dibatasi oleh pembatas jalan. Lalu ada jalur ketiga, di sebelah kiri saya, tegak lurus dengan jalan saya, sebut saja E. Di pertigaan ini, pembatas jalan tidak ada, dan mobil dari arah berlawanan dapat lurus sesuai jalannya, atau berbelok ke kanan, ke jalan E.

Saya berada dijalur dalam (jalur B), dan tepat sebelum mobil dari jalur C dapat berbelok dengan benar. Di depan sudah ada mobil yang memang berenti karena macet, di samping saya (jalur A) juga macet. Mobil dari jalur C sudah berbelok dan menunggu terbukanya jalan di jalur A dan B. lalu semakin lama, karena masih macet, jalur D juga dipenuhi mobil yang ingin berbelok ke E. Terbentuklah semi deadlock. Motor juga sudah ingin berbelok, dan karena sudah tidak muat di depan saya, saya maju, dan motor dapat melalui belakang mobil saya, ke jalan E. Nah, setelah mobil di depan saya jalan, dan tidak terlalu jauh, cuma maju sekitar 1 mobil, saya tentu memberi jalan dulu pada jalur C dan D untuk berbelok, biar lancar. Para petugas jadi-jadian juga sudah mulai muncul mengarahkan mobil-mobil agar tidak macet berkepanjangan. Setelah mobil dari jalur A juga maju, mobil di samping saya, yang juga BELUM memotong jalan C ke E, distop oleh petugas agar mobil dari C bisa ke E tentunya. Tapi ego sang pengemudi tidak ada sepertinya. Dia mepet ke mobil di depannya, yang dengan catatan, tidak bergerak juga, cuma bergerak sejauh 1 mobil. Dan sang petugas mencoba menjelaskan, dan mencoba menyuruhnya mundur lagi, tapi apa daya, mobil tetap maju dan semakin menghalangi jalur C ke E. Bahkan angkot di belakangnya sampai tidak jalan dulu, agar dia bisa mundur lagi, membuka jalan C ke E. Saya sampai membuka jendela dan sebisa saya mendukung si petugas untuk menyuruh mundur si mobil tak berprikemanusiaan ini. Tidak bisa. Dan selama 5 menit setelahnya, barulah jalur A kembali jalan, dan mobil saya dan angkot tadi tetap memberi jalan ke jalur C dan D dahulu. Setelah kira-kira sudah terlalu jauh jarak yang saya buat dengan mobil di depan, dan jalur C dan D sudah lumayan lancar, saya dim, dan jalur A dan B diberi kesempatan jalan lagi. Dan pada akhirnya, saya kembali ke samping mobil tadi.

Apakah ego manusia sebesar itu? Apakah tidak ada lagi jalur berpikir benar di otaknya?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s