Month: April 2013

Ketika tugas ut…

Ketika tugas utama teralih oleh sejenak sejenak, kita akan lebih sibuk dengan sejenak tidur, sejenak online, sejenak dengerin lagu, sejenak chating, dan sejenak-sejenak lain, lalu ketika sejenak itu berakhir kita baru sadar bahwa tugas utama kita hampir terlambat

– friend’s blog

Numbers 6

Numbers 6:24-26
New International Version (NIV)
24 “‘“The Lord bless you
and keep you;
25 the Lord make his face shine on you
and be gracious to you;
26 the Lord turn his face toward you
and give you peace.”’

My story is entering its complicated starting mode. just like DC motor, starting overcurrent can exceed up to ten times its  nominal current. Its coil can be overheated, but, if the coil that we used have high rating, the transient current will be gone in just one second, and the steadystate current will have no more overcurrent.

I’ve learning so much just in this prolog. And I am glad to be here. I hope I can read the first chapter soon. Amen.

If no is the answer? Its like, I wont read anything in the next three years. Yeah, but I wont let it happen

BLESSINGS – Laura Story

We pray for blessings
We pray for peace
Comfort for family, protection while we sleep
We pray for healing, for prosperity
We pray for Your mighty hand to ease our suffering
All the while, You hear each spoken need
Yet love us way too much to give us lesser things

‘Cause what if Your blessings come through raindrops
What if Your healing comes through tears
What if a thousand sleepless nights
Are what it takes to know You’re near
What if trials of this life are Your mercies in disguise

We pray for wisdom
Your voice to hear
And we cry in anger when we cannot feel You near
We doubt Your goodness, we doubt Your love
As if every promise from Your Word is not enough
All the while, You hear each desperate plea
And long that we have faith to believe

‘Cause what if Your blessings come through raindrops
What if Your healing comes through tears
What if a thousand sleepless nights
Are what it takes to know You’re near
And what if trials of this life are Your mercies in disguise

When friends betray us
When darkness seems to win
We know that pain reminds this heart
That this is not, this is not our home
It’s not our home

‘Cause what if Your blessings come through raindrops
What if Your healing comes through tears
And what if a thousand sleepless nights
Are what it takes to know You’re near
What if my greatest disappointments
Or the aching of this life
Is the revealing of a greater thirst this world can’t satisfy
And what if trials of this life
The rain, the storms, the hardest nights
Are Your mercies in disguise

The Traveler Point of View

penjelajah itu berjalan kemana angin membawanya. Ia bermodalkan semangat berpetualang, tanpa tahu apa yang akan didapatinya di seberang gunung. Setelah sampai di puncaknya, dan melihat ke seluruh penjuru mata angin, matanya tertarik kepada sebuah bangunan yang menjulang tinggi kokoh berdiri di atas sebuah bukit kira-kira tiga hari perjalanan jauhnya. Bangunan itu tidak mewah, tidak berhiaskan banyak patung seperti bangunan lain, namun bangunan itu membuatnya tertarik.

Sang penjelajah melihat ke sekeliling bangunan itu dari jauh. Terlihat ada penjagaan besar-besaran di sekitar bangunan itu, tapi sang penjelajah yang sudah dibekali pengetahuan dasar dan pengalaman selama hidup berteman dengan alam, tidak takut. Ia melihat bahwa bangunan ini merupakan sisa peninggalan sebuah kerajaan yang tidak lagi aktif. Dan ini semakin membuatnya semangat, karena ia memang pergi menjelajah dengan tujuan untuk membangun kerajaan baru, kerajaan yang akan dipimpinnya sampai mati. Kastil itu memang terlihat indah dari luar, namun ia belum seratus persen menginginkan kastil itu, karena ia belum melihat bagian dalam ruangan-ruangannya.

Dimulailah perjalanan menuruni gunung dengan satu tujuan baru, memasuki kastil tersebut. Ternyata baru setengah perjalanan turun, ia melihat dari kejauhan ada beberapa pasukan berkuda yang berbaris di bagian utara kastil tersebut. Tidak hanya satu pasukan, sepertinya di bagian yang tertutup oleh bangunan kastil juga ada beberapa penjelajah lain yang mencoba menerobos rintangan halangan yang ada sebelum mencapai kastil tersebut. Sang penjelajah merasa khawatir, ia harus cepat-cepat menuruni gunung ini. Dengan lincah, ia berlari menghindari batu-batu, duri-duri dan ranting pohon yang ada sepanjang perjalanan, Ia sekarang sudah sampai di kaki gunung, kastil semakin dekat, namun kastil tersebut belum dalam jangkauan penglihatannya.

Perjalanan mendekati kastil ini dilakukannya dengan hati-hati, ia banyak berhenti, mencari informasi dari alam sekitar tentang kastil tersebut. Setelah sampai di dekat penjagaan kastil itu, ia tidak langsung mencoba menerobos, ia berjalan mengelilingi kastil tersebut. Terdengar suara alunan musik dan nyanyian seorang perempuan dari dalam. Ah, merdu. Semangatnya sekarang bertambah. Ia dapat melihat sebuah jendela di sebuah menara yang cukup tinggi, dan ia melihat seorang perempuan bermain piano disana. Ia pasti seorang ratu di kastil ini. Tapi ia berpikir, jangan-jangan semua pasukan yang mencoba melewati penjagaan tadi ingin mendapatkan sang perempuan dan kastilnya juga. Namun sang penjelajah tidak melihat tanda-tanda bahwa si perempuan sedang menunggu siapapun, si perempuan sedang asik sendiri bermain musik menikmati hari.

Sang penjelajah mengitari kastil, dan mempelajari halangan-halangan yang ditaruh disana. Sangat rapi, namun ia yakin pasti ada sebuah jalan masuk. Ia melihat sebuah cara. Sebuah celah. Ada bagian penjagaan yang terlihat paling menyeramkan, dan tidak mungkin ada yang berani memasuki kastil lewat situ karena dari jauh sudah terlihat tidak mungkin. Tapi dari dekat, ternyata kemungkinan malah muncul. Sang penjelajah kembali mundur ke hutan, ia membuat peralatan yang cocok untuk menerobos. Kayu yang kuat, akar pohon yang dapat mengikat dengan erat, daun yang lebar, semua pengetahuan akan alamnya digunakan untuk membuat sebuah peralatan sederhana namun efektif untuk melewati rintangan tadi. Cukup lama waktu yang dibutuhkan untuk membangunnya. Sang penjelajah terlihat capek juga, karena pertama kali mencoba alat yang dibuatnya, gagal total. Ia terlalu terburu-buru, bagian-bagian peralatan tersebut masih banyak yang tidak kuat diikat. Lalu ia kembali mencari peralatan di alam, cairan getah pohon untuk pelumas engsel dan juga getah jenis lain sebagai lem yang sangat kuat, batu-batuan untuk mengeset ketinggian alat, dan banyak lagi persiapan yang dibuatnya. Pengetesan kedua dilakukan, peralatan berfungsi seperti yang seharusnya, tapi ternyata kekuatannya kecil, walaupun suara yang ditimbulkan besar. Bahkan lapisan pertama penjagaan kastil itu tidak terlihat berkurang kekuatannya. Ia kecewa. Ia merasa sama saja dengan pasukan berkuda lain, ia tidak dapat memasuki halaman kerajaan itu. Di dalam kastil, tanpa disadari, sang perempuan melihat perjuangannya membangun peralatan, dan menonton percobaan yang dilakukan sang penjelajah. Sang penjelajah melihat ke jendela tempat perempuan itu melihatnya. Ia merasa sang perempuan sedang mengamati seberapa kuat penjagaan yang dibangunnya. Tanpa melihat lebih lanjut ke wajah sang perempuan, sang penjelajah berbalik badan, dan kembali ke hutan

Di dalam perjalanan mundur ia berpikir, dan berpikir. Sebenarnya apa yang kurang dari peralatan yang dibuatnya. Tanpa mendapati jawaban yang pasti, ia tertidur. Dalam mimpinya, ia bertemu dengan banyak orang, namun pertemuan itu berlangsung sebentar dan ia hanya melakukan percakapan ke satu orang dalam satu waktu. Ia menanyakan pertanyaan yang sama, kastil apa sebenarnya itu, mengapa penjagaannya begitu kokoh, kenapa peralatan saya tidak berfungsi sebagai mana mestinya. Jawaban dari beberapa orang sangat singkat, tapi ada sebuah jawaban yang sangat berbeda. Jawaban itu datang dari roh seekor burung. Katanya, kastil tersebut sangat indah, walaupun sang burung hanya pernah melihat suatu ruangan saat ia terbang melewati jendela yang ada, tetapi sudah cukup menggambarkan bagian dalam kastil tersebut. Dan yang mengejutkan, sang burung berkata bahwa sang perempuan sedang menunggu adanya seseorang yang dapat melewati penjagaan kastil tersebut tanpa bimbingan apapun. Katanya, rintangan yang diberikan dapat diselesaikan, asal dengan cara yang tepat. Sang burung berkata, cara sang penjelajah sudah hampir tepat, hanya saja kurang percaya diri dan kurang menggali potensi alam lagi. Dan di kalimat terakhir perbincangan dengan sang burung, terdapat sebuah pesan, cobalah melihat ke arah sang perempuan, lihatlah wajahnya, dan ketahuilah bahwa ia juga menantikan seseorang, ia tidak sabar melihat seseorang berhasil memasuki halaman kerajaan, dan memasuki ruangan menara tempatnya dikunci. Ya, ternyata sang perempuan terkunci di dalam ruangan tersebut, dan menunggu pertolongan.

Terbangun dari tidurnya, sang penjelajah kembali mengingat semua pelajaran tentang bertahan hidup, tentang pembuatan senjata, tentang potensi alam yang pernah dipelajarinya. Namun tidak didapatinya ada yang berguna. Ia bingung. Dalam kebingungan, ia kembali ke arah kastil. Ia mendapati bahwa sang perempuan memang sedang menunggu, ia dapat melihatnya sekarang, rasa kesepian di wajah sang perempuan. Ia tanpa ragu mengajak sang perempuan ngobrol dari jauh, dengan suara yang keras, namun tanpa berteriak.

Ternyata sang perempuan menjawab panggilannya, mereka saling berbincang, seperti sudah berteman dari lama, sang penjelajah memang jarang mengobrol dengan siapapun selama perjalanannya, jadi ia sangat senang. Mereka berbincang tentang semuanya, pengalaman masa kecil, pengalaman buruk yang sudah terjadi, pengalaman indah, hal yang random juga mereka bahas. Sang penjelajah dan sang perempuan. Masih terpisahkan oleh jutaan kawat berduri, namun mereka mulai saling mengenal. Sang penjelajah sekarang sudah menentukan pilihannya. Ia ingin sekali menerobos dan menyelamatkan sang perempuan. Tapi ia belum menemukan senjata yang tepat, yang cukup kuat. Sang perempuan juga tertarik dengan sang penjelajah, dan terus menemaninya dalam pencarian bahan pembuatan senjata penerobos itu. Sang perempuan kadang memainkan musik yang indah, yang membuat sang penjelajah tenang dalam kebingungannya.

Sekarang sang penjelajah sedang sibuk mempelajari bahan-bahan di alam yang tidak pernah ia pelajari sebelumnya. Ia mencoba semuanya sendiri, ia mengetes kekuatan dari setiap bahan, ia mencampur beberapa bahan membuat ramuan yang mungkin dapat menjadi sebuah senjata yang cukup kuat untuk menghancurkan kawat berduri itu. Pada siang hari ia bekerja mencari bahan, pada malam hari ia dan sang perempuan bercerita-cerita saling menemani. Sekarang bahan yang dibutuhkan sudah terkumpul. Dalam teori, senjata ini cukup kuat. Tapi dalam praktek, cuma ada satu kesempatan, karena sang penjelajah sendiri juga merupakan bahan dari senjata ini. Ia membuat sebuah pelontar manusia. Ia akan melempar dirinya sendiri melewati rangkaian jebakan berduri yang ada. Sebuah percobaan bunuh diri, namun dapat berhasil dalam teori.

Sang penjelajah sudah siap, ia hanya mencari waktu yang tepat.