Month: June 2013

Haruskah Harga BBM Naik?

Oleh A PRASETYANTOKO

Sering kali, ketika kita ragu memutuskan sesuatu, pada akhirnya situasi memaksa kita bertindak cepat. Akibatnya, kita jadi reaktif ketimbang antisipatif. Situasi inilah yang terjadi pada perekonomian kita hari-hari ini. Rupiah terus merosot mencapai titik terendah sejak tahun 2009, sementara Indeks Harga Saham Gabungan terus turun ke tingkat 4.600. Secara mengejutkan, suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) dinaikkan 25 basis poin menjadi 6 persen.

Rupiah sempat diperdagangkan di pasar non-deliverable forward atau transaksi lindung nilai untuk kepentingan masa depan dan menembus Rp 10.000 per dollar AS. Adapun Indeks Harga Saham Gabungan jatuh dari rekor tertingginya di tingkat 5.200, sementara imbal hasil obligasi merangkak naik. Apa sejatinya penyebab ”kepanikan” pasar ini?

Benar, faktor global menjadi salah satu penyebab gejolak. Di pasar keuangan dikenal istilah ”paradoks likuiditas”. Intinya, ketika terjadi gejolak, likuiditas akan mengalir ke tempat yang dianggap paling aman. Selama ini, negara-negara maju (khususnya Amerika Serikat) selalu percaya diri bahwa merekalah tempat paling aman untuk menyimpan aset keuangan. Itulah mengapa mereka tak terima ketika peringkat utangnya diturunkan oleh lembaga pemeringkat Standard & Poor’s. Itulah juga mengapa mereka tak pernah khawatir dengan penerbitan surat utang terus-menerus meskipun tingkat utangnya sudah terlalu tinggi. Negara maju percaya mereka tetap bisa berutang dengan biaya murah.

Argumen tersebut ada benarnya. Setiap kali stimulus ekonomi dilakukan di negara maju, likuiditas cenderung mengalir ke negara berkembang. Tujuannya, mencari imbal hasil lebih tinggi. Bayangkan, rata-rata suku bunga di negara maju hanya 0,25 persen. Bedanya dengan suku bunga kita bisa 5-6 persen. Namun, setiap terjadi gejolak, likuiditas akan kembali ke pasar negara maju, sementara kita harus menaikkan suku bunga untuk mempertahankan modal asing. Negara maju tetap menikmati suku bunga rendah, baik di masa normal maupun saat terjadi gejolak.

Bagi negara berkembang, argumen lama tentang ”dosa asal” (original sin) dalam ekonomi menjadi relevan. Ketidakmampuan sebuah negara membiayai diri dalam mata uangnya menjadi akar dari segala macam gejolak. Dalam kasus ini, jika masih mengandalkan investor asing, pasar modal dan pasar utang harus siap terpapar dengan risiko volatilitas.

Lalu apa kaitannya dengan bahan bakar minyak (BBM)? Masalah kepanikan tak pernah terjadi begitu saja. Faktor global terkait rencana The Fed mengurangi stimulus ekonomi, prospek ekonomi China, dan kondisi Eropa yang di bawah harapan tentu mendorong gejolak investor global. Namun, mengapa pasar bereaksi begitu keras kepada kita? Karena kita menyimpan beberapa persoalan fundamental.

Salah satu isu paling pokok dalam perekonomian kita adalah soal target defisit anggaran. Besarnya subsidi akibat konsumsi BBM yang terus meningkat telah menimbulkan komplikasi ke sejumlah hal: defisit fiskal, neraca transaksi berjalan, neraca pembayaran, dan nilai tukar. Secara teknis ekonomi, pilihannya hanya dua: mengurangi subsidi atau menerbitkan utang untuk menghindari defisit yang diperbolehkan oleh undang-undang (UU), yaitu sebesar 3 persen.

Sekadar penghematan dari sisi pengeluaran dan mendongkrak pemasukan sudah tidak lagi mampu menutup defisit yang akut. Pilihan lain, mengubah UU Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah terkait target defisit. Namun, itu membutuhkan proses politik yang panjang, sementara persoalannya begitu mendesak. Urgensi tak sekadar mengamankan pasar keuangan dari pelarian modal, tetapi juga menghindarkan diri dari instabilitas makroekonomi yang berkepanjangan.

Dinamika ekonomi biasanya dibagi dalam perspektif jangka pendek dan panjang. Jangka pendek biasanya terkait dengan isu stabilitas, sedangkan jangka panjang umumnya mengenai intermediasi. Keduanya terkait satu sama lain. Bagaimana mungkin berpikir soal intermediasi (memperbaiki kualitas fiskal, menambah belanja modal, dan memberikan insentif usaha kecil) jika situasinya tidak stabil. Maka, respons cepat mengatasi persoalan instabilitas, baik pada kurs maupun bursa saham, harus ditempatkan dalam konteks kepentingan jangka panjang, yaitu mendorong fungsi intermediasi.

Terkait dengan kenaikan harga BBM, semakin lama ditunda semakin kehilangan kesempatan untuk melakukan ekspansi dan memperbaiki sisi produksi kita. Meski begitu, penolakan kenaikan harga BBM, baik dari partai oposisi maupun sejumlah kelompok dalam masyarakat, tetap harus ditangkap esensinya.

Selama ini terlalu banyak kebijakan yang implementasinya distortif dan mendorong perilaku pemburuan rente (rent seeking) ekonomi. Begitu juga di sektor minyak dan gas. Belum lagi berbagai praktik pemburuan rente yang ada di sekitar birokrasi pemerintah dan proses legislasi di parlemen. Sulit mencari dinamika ekonomi yang tak berlumuran dengan praktik pemburuan rente ekonomi di negeri ini. Tentu saja, itu masalah amat serius, tetapi bukan berarti bisa menegasi urgensi kebijakan BBM.

Ibaratnya, ada orang mengalami serangan jantung dan harus segera diambil tindakan medis tertentu. Namun, tindakan tersebut dianggap tak relevan dengan menunjukkan betapa buruknya perilaku orang itu soal makanan dan olahraga. Tumpukan kolesterol telah menimbulkan komplikasi yang fatal. Korupsi dan inefisiensi birokrasi bagaikan tumpukan kolesterol dalam darah yang bisa mematikan fungsi jantung kita. Namun, tidak melakukan apa pun di saat kritis juga sebuah keputusan fatal.

Seruan pemberantasan korupsi bagaikan anjuran makan sehat dan olahraga teratur. Begitu mudah diucapkan, tetapi sulit dilakukan atau, kalaupun dilakukan, hanya satu atau dua kali. Padahal, untuk menghindari serangan jantung, olahraga harus dilakukan secara teratur dan konsisten dalam jangka panjang. Apakah partai politik konsisten melawan korupsi? Jika tidak, baik yang dikritik (pemerintah) maupun yang mengkritik (parlemen) sama-sama mengidap hipokripsi. Penyakit yang juga jamak di negeri ini.

A Prasetyantoko Pengajar di Unika Atma Jaya, Jakarta

Hadap-hadapan/Sampingan? Dilematif ataukah normatif?

jadi ini adalah pertanyaan yang baru saja muncul karena ditanya salah seorang rekan kantor saya sebut saja namanya Edu.

Kev, lo pas makan sama pacar lo duduknya hadap-hadapan atau samping-sampingan?

nah, ada apa dibalik pertanyaan ini dan apa yang dikatakan para fisikawan terhadap kasus ini? tunggu laporan saya dari balik jeruji. selama menunggu sebaiknya kalian makan dulu, daripada sibuk mikirin harus duduk gmana pas makan. oke?

this post will be continued…

Apa saya sedang berkorban?

pagi ini, saya tersadar akan suatu hal. Cinta bukan tentang pengorbanan.

Pertama-tama, saya jelaskan keadaan bahwa saya sedang menjalani hubungan yang dekat dengan seorang ciptaan Tuhan, wanita tentunya, dan ia sangat saya sayangi. karena kami kuliah di kampus yang berbeda, dan angkatan yang berbeda, saya sadar suatu saat saya akan memasuki masa berpisah jarak dengannya. bahkan saat ini pun, saya sedang kerja praktek (KP) di perbatasan daerah Garut dan Bandung, dan dirinya masih kuliah bahkan belum UAS (kasian ya). kami terpisah sekitar hmm 45 km dan satu-satunya kendaraan yang saya punya disini adalah teman. ya, tebeng-ers sejati.

sudah lebih dari seminggu saya dan dirinya tidak bertemu. ahh baru seminggu (kata sebagian orang). ya seminggu memang sebentar, bahkan di Bandung pun tidak jarang kami hanya bertemu seminggu sekali. ya hari Sabtu memang selalu ditunggu-tunggu karena disitulah kami pasti bertemu, di gereja. Betapa sucinya pacaran ini. :p tapi, saat merasakan gereja terpisah, “that feeling” datang. K.

perlu ditambahkan bahwa disini susah sinyal internet. hanya sinyal simpati yang ada. bahkan dengan modem simpati pun, pagi-pagi buta baru lancar. sisanya? amburadul. internet hanya tersedia di kantor, dan biasanya dgunakan baru pukul 2-4 sore. soalnya sibuk euy. sibuk kelilingin power plant. asa anak proyekan. nah, dan nomer 3 yang biasanya menghubungkan kami, juga terhambat oleh besarnya gunung yang ada di antara garut bandung. tri saya tidak ada harapan. sisa nomer simpati. dia? tri. mahal? iya. kangen.

cinta bukan tentang pengorbanan, tapi tentang usaha. lo ga harus ngorbanin temen lo biar bisa ngobrol sama orang yang lo sayang. lo ga harus ngorbanin jam tidur lo biar terkesan wow. lo ga harus ngorbanin duit ortu lo buat beli penguat sinyal tri, biar bisa nelepon pake tri. ga. itu ga bijak. yang penting itu usaha. gimana lo berusaha meluangkan waktu memberi kabar pada yang di seberang sana, gimana lo berusaha ngerjain semua hal dengan cepat dan tepat biar ada waktu buat ngobrol sama partner lo itu, gimana lo berusaha ngerti apa yang sedang terjadi diantara lo dan dia, tentang sulitnya, tentang sibuknya, tentang perasaannnya, tentang semuanya. tapi lo ga harus ngorbanin kepentingan lo untuk dia, apalagi nyawa lo. ga banget bro. emang dia seneng kalo lo kenapa-kenapa? cinta itu pengertian, eh saling mengerti, jadi satu pihak ngerti pihak yang satu lagi. indah. cinta itu indah. ga nyusahin kok.

satu lagi kenapa cinta itu usaha bukan berkorban. berkorban itu artinya memberi sesuatu sebagai korban. jadi pacar lo itu dewa atau apa harus dikasih korban? jadi lo nyembah pacar lo? haha. satu arti lagi, berkorban itu menderita atau menjadi korban. apakah lo merasa menderita meluangkan waktu buat dia? kalau gw sih ngga. kalau berusaha? bekerja giat untuk melakukan sesuatu dan mendapatkan hasil yang memuaskan. yap. simpulkan sendiri.

jadi apa yang saya dan partner saya lakukan? kebetulan saya sibuknya pagi sampe sore, dia juga lagi sibuk ngerjain tugas-tugasnya. btw, dia model. haha just kidding. dia manusia biasa, tapi manis, dan baik banget, dan senyumnya manis, dan baik banget, dan ngangenin, dan dia jago jutekin orang, jago piano juga sih, tapi dia ga mau energizer, dia suka ngantuk, pokoknya kalau ga ngantuk, kerjanya ya bingung. tapi lagi mencoba konsisten belajar alkitab, keren deh. wah jadi ngelantur. iya pokoknya dia nyari kesibukan sendiri saat saya sibuk. dan dia membeli nomer simpatiii 🙂 🙂 akhirnya bisa denger suaranya lagi. 🙂

untuk teleponan pun kadang harus usaha keras. malu ah dijelasin disini, tapi intinya saya selalu berusaha memberikan waktu saya untuk partner saya itu. dibalik kesibukan yang semu ini, (soalnya dikit lagi gabut juga) dirinya dan diriku berdoa agar dibolehkan bertemu lagi dalam 1 minggu kedepan, soalnya Ina udah mau UAS, abis itu langsung pulang bogor 😦 dan real distance diantara kami menjadi lebih dari 100km, walaupun heart distance tetep deket. lama di jalan dekat di hati :p

I can’t wait to see you this Saturday.
I want to see your voice,
I want to hear your smile.
🙂

shivering, and missing you

Andre Kevin (not portable)

 

daftar pustaka :

http://www.artikata.com/arti-383397-berusaha.html
http://www.artikata.com/arti-368959-berkorban.html