Dokter Dedek

Adek gw, Michelle Eva Rebecca, yang paling terakhir bangun pagi setiap hari, punya cita-cita yang sangat biasa. Jadi dokter. Ya semua anak di dunia ini kalau ditanya mau jadi apa pas gede, percayalah banyak banget yang jawab “mau jadi dokter kakaa~~” (pake suara anak kecil). Tapi apakah semua orang yang pengen jadi dokter pasti bisa jadi dokter? Kalau semuanya jadi, habislah perusahaan rokok, karena semua orang tau bahwa perokok itu bodoh.  Capek capek cari duit, malah beli penyakit.

Sebenarnya cita-cita jadi dokter udah terbentuk dari lama, karena nyokab kami juga dokter. Dedek, panggilannya di rumah, sering diajak ke rumah sakit tempat nyokab kerja, dan dia senang dengan suasananya. Mungkin ga akan jadi dokter umum kayak nyokab, karena capek juga katanya ngeliatin darah terus tiap hari. Makanya dia berencana menjadi dokter spesialis. Spesialis apa? Tentunya bukan spesialis bangun pagi, bukan karena ga mungkin, tapi karena ga ada kuliah gituan.

Jadi setelah bersenang senang di SMA kelas 2, setelah naik kelas 3, pikiran dedek langsung focus ke kuningnya jaket UI, karena dia pengen masuk kedokteran UI aja, biar deket sama rumah, ga semahal swasta juga, walaupun mahalnya swasta memang jelas fasilitas yang didapat juga sepantas, sedangkan uang yang dikasih ke pemerintah ga tau nguap ke mana atau mendem dijadiin villa di puncak. Pokoknya semua gramedia diputerin nyari buku soal masuk PTN. Udah kayak kolektor buku soal, dan si dedek kerjanya jadi cabut sekolah, dan bimbel. Salut banget sama usahanya, dari bulan desember, bahkan sebelumnya, udah mati-matian ngejar nilai, karena pintu pertama adalah pintu undangan yang katanya satu sekolah cuma dapet ga sampe hitungan satu tangan. Dan diurutnya pake nilai selama 5 semester terakhir kalau ga salah. Dan ternyata pintu pertama ga cocok buat si dedek, dari 48 orang yang mau masuk FK UI, dari sistem undangan, cuma 6 orang yang diambil (ada loh orang yang jari tangannya 6), dan si dedek urutan ke 12. Oke, masih banyak pintu lain, masih tenang, doa yang dipanjatkan masih lumayan jarang, mungkin kalau pake status gunung merapi, masih “aman”.

Lalu setelah melewati UN (Ujian Nyontek), yang dilewati Michelle tanpa nyontek, akhirnya bisa lepas dari beban seragam SMA dan fokus mencari si kuning. Pintu kedua adalah SBMPTN, yang dulu namanya SNMPTN, yang dulu namanya SENAMPTN, yang dulu namanya SPMB, yang dulu namanya UMPTN, dan legendanya namanya SMUP. Entah apa maksudnya gonta ganti singkatan. Kalau gw yang disuruh nyingkat, bagusan juga “UMUIITBUGMUNYIPBUNPADUNDIPITSUNBRAWAMKEPDUL” (Ujian Masuk UI, ITB, UGM, UNY, IPB, UNPAD, UNDIP, ITS, UNBRAW, Atau Masuk Ke Enam Puluh Dua Universitas Lainnya) atau kalau kepanjangan mending lebih disingkat lagi jadi “U” yang kepanjangannya adalah Ujianmasukuiitbugmunyipbunpadundipitsunbrawataumasukkeenampuluhduauniversitaslainnya. Lebih mantap.

Balik lagi ke si dedek. Habis ikut SBMPTN, pulang-pulang katanya susah. Dan kata orang lain juga susah. Tapi tetep aja susah. Sesusah masukin benang ke lobang gajah. Susah deh pokoknya. Lalu nyokab dan bokap mencoba menyemangati adik gw dan sambil menunggu pengumuman tanggal 8 Juli, adek gw belajar buat SIMAK UI, ujian mandirinya UI.

Jalan jalan ke kota bandung,

Beli duren rasanya enak,

Kalau diterima ya untung,

Kalau ga ya coba SIMAK

Jadi, setelah deg-degan disebar luas sampai ke gw, yang ada di Kamojang lagi ngabisin bandwidth Pertamina, akhirnya hari itupun tiba. Gw telepon pagi, gmana hasilnya? Eh katanya keluarnya jam 5 sore. Gw sore main bola, kelupaan nelepon. Malemnya, nelepon, ah ternyata pintu kedua juga bukan pintu yang asli kalau kata game benteng takeshi. Oke, kita coba pintu selanjutnya. Dengan modal meja belajar gw, si dedek membuat meja tersebut jadi tempat pemujaan buku soal simak ui. Berdoa udah makin kenceng nih, kalau pake status gunung merapi lagi, ini udah kayak “siaga 1”. Akhirnya hari ujian pun selesai, adik gw keluar dengan wajah biasa aja, soalnya susah juga. Dari 39000+ orang yang ikut SIMAK, 5000+ mau masuk FK, dan sisa kursi yang ada tinggal 40. Pengen rasanya bilang “udahlah, adik saya ga dapet kursi juga gapapa, yang penting kuliah kedokteran, saya bisa bawa kursi sendiri, terimalah adik saya” ke panitia penerimaan mahasiswa baru, tapi kayanya mereka lagi ga bisa mendengar gombalan gw. Yaudah. Moving on.

Rencana B sampe Z udah langsung dibuat. Universitas mana lagi yang mau nerima adik gw yang susah bangun pagi ini. Lalu muncullah nama-nama seperti UnBraw, USU, Trisakti, UPH, UKI, UnSrat, Udayana. Unbraw terlalu jauh, jawa timur, malang, wah bisa kangen luar biasa nyokab bokap gw. USU dosen dan mahasiswanya batak semua, bisa nangis nangis si dedek tiap hari diceritain tentang tubuh manusia sambil makan arsik. Belum lagi kalau ospek nya disuruh nari tor tor. Sudahlah, jangan USU. Trisakti, swasta, mahal. UPH, swasta, Uang Papa Habis. UKI, ujiannya hari Sabat. UnSrat, Manado, jauh juga, lebih makin malang daripada malang. Udayana, bolehlah. Jadi dibelilah tiket ke Malang, diambillah semua formulir pendaftaran dari berbagai universitas tersebut. Lalu diteleponlah kakak nyokab dan disediakanlah rumah di deket USU, padahal ujian juga belum. Dan rencana Z adalah kuliah desainer karena adek gw suka desain baju, dan ini adalah pilihannya sendiri. Dia memegang prinsip “Kedokteran atau Desainer atau nikah!”

Tapi ternyata tubuh si dedek berkata lain. Dia sudah terlalu lelah, bekerja high performance dari Desember, tubuhnya tak kuat lagi, dia muntah. Akhirnya harus diinfus dan beristirahat di rumah. Setelah diperiksa oleh tukang pijet, ternyata tubuhnya kebanyakan makan soal. Ternyata memuja buku soal memang tidak sehat.

Berdoa. Ya, inilah saat-saat dimana doa sudah dilayangkan lebih dari biasanya. Air mata, lutut yang gemetar, meminta ketegaran untuk menerima apapun hasil yang keluar. Meminta agar kaki ini masih bisa berdiri tegak setelah melihat hasil pengumuman SIMAK. 40 banding 5000. Berat. Tidak mungkin kalau memang bukan Tuhan yang menghendaki.

Thanks God. Hari pengumuman dating, dan gw kira jam 5 juga pengumumannya, eh ternyata jam 8 pagi ditelepon adek gw, dibilang dia masuk! Gw yang baru selesai mandi air dingin di Kamojang, jadi gemeteran. Thanks God. Thanks God. Bokap yang nerima kabar juga langsung diminta traktir sama temen-temen kantor. Semua bahagia. Bernapas tidak lagi “huff, huff, huf” tapi “fkui, fkui, fkui”.

Selamat ya dek, J kamu selangkah lebih dekat dengan cita-citamu, tapi ingat, bagaimana perjuangan kamu mendapat kesempatan ini, berapa banyak doa yang kamu panjatkan, berapa banyak doa mami dedi yang berpikir keras, menyemangatin. Jangan sia-siakan kesempatan ini, buat target berikutnya, mau jadi apa, bagikan firman Tuhan dengan kemampuanmu di profesimu. Dedek harus tetep rajin berdoa, makin rajin baca alkitab walaupun buku tuntutan juga banyak yang harus dibaca, jangan menyerah. Tuhan ada. Tuhan mau bantu. Tuhan bisa bantu. Bersyukurlah selalu.

Dari, abangmu yang bangga

IMG_0389

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s