Month: August 2013

Butterfly Effect

pernahkah kalian menonton film Butterfly Effect? film ini bergenre sci-fi atau science fiction. kalau kalian belum pernah mendengar atau menontonnya, film ini berasal dari sebuah teori, yaitu chaos teori, begini bunyinya

It has been said something as small as the flutter of a butterfly’s wing can ultimately cause a typhoon halfway around the world. – Chaos Theory

Jadi, teori ini mengatakan tidak ada yang namanya takdir. semua terjadi karena sebuah alasan. pilihanmu pada saat ini akan berakibat sesuatu pada orang lain, yang dekat denganmu, bahkan yang jauh di belahan dunia lain. Pilihanmu pada satu titik kehidupanmu dapat mengakibatkan suatu hal terjadi padamu di masa mendatang. bisa hal baik, bisa hal buruk. Tidak harus pilihan yang besar, tapi bisa saja warna baju yang kamu pilih, pilihan kata yang kamu ucapkan, atau bahkan kaki mana yang kamu pilih untuk menginjak lantai duluan pada pagi hari setelah bangun dapat membuat hidupmu berubah.

Hidup ini dinamis, semuanya harus dipikirkan secara matang. Jadi tidak benar jika kita hanya menyerah kepada keadaan dan hidup santai. selama hidup, kita harus terus bergantung pada Tuhan, karena memilih sesuatu sangatlah susah, kita tidak dapat melihat apa hasil dari pilihan kita, namun Tuhan dapat membantu kita memilih yang terbaik.

Suatu ras di indonesia selalu berpegang pada suatu kalimat. “Masih untung …….. “. Jadi ketika sesuatu buruk terjadi, mereka melihat dari sisi positifnya selalu. saat terjadi dari motor, dan tidak terluka, mereka berkata, “untung tidak terluka“, saat terluka sedikit, “untung tidak luka parah”, saat luka parah, “untung masih hidup” saat kecelakaan menyebabkan kematian, “untung dia mati, kalau nggak, bakal menderita kesakitan selama sisa hidupnya”. Ya, berpikir seperti itu sangat baik, tapi tidak baik jika kita terus menerus memegang prinsip itu. Kita tidak akan belajar dari kesalahan. Cari tahulah mengapa kita mengalami sesuatu, jika mungkin, karena hal itu merupakan cara untuk mencegah hal yang sama terjadi di kemudian hari. Menerima suatu kejadian memang penting, tetapi belajar dari suatu kejadian lebih penting lagi.

Manusia kadang berpikir bahwa semua hal di dunia ini sudah seharusnya demikian. Sudah takdirnya. Dahulu kita melihat bahwa kawat yang ada melintas di atas rumah kita, menuju rumah tetangga kita, dan rumah lainnya, yaitu kawat listrik (sebagai seorang mahasiswa jurusan teknik tenaga listrik) sudah takdirnya dipasang bertiga-tiga. Tapi setelah belajar lebih dalam lagi, ternyata itu bukan takdir. Mereka dipasangkan bertiga-tiga bukan karena kesepian atau karena 3 adalah angka kesukaan Dirut PLN, tapi karena listrik yang mengalir, mempunyai fasa yang berbeda 120 derajat elektrik sehingga tidak dapat dibuat menjadi 1 kabel (ya kabel, tadi salah nulis kawat, kawat itu yang ga ada konduktornya, saya mengaku belum berhasil sebagai mahasiswa teknik tenaga listrik). Kenapa 120 derajat? alasannya karena paling efektif dari segi ekonomi dan segi teori. Tidak semuanya tiga fasa, ada yang enam fasa, dua belas fasa dan seorang senior saya melakukan tugas akhir 21 fasa. OMGMGMGMGM. mari kita sudahi paragraf abstrak ini.

Jadi tidak ada yang namanya takdir. Banyak alasan di masyarakat, excuse yang diterima oleh orang banyak karena gender kita. Pria dan wanita berbeda. Mereka tidak berpikir dengan cara yang sama. Alam bawah sadar mereka tidak sama. Tidak pernah kita melihat, seorang pria melihat sebuah tas dipajang di etalase dan berkata “ihh lucuuu~”. penambahan tanda “~” sangat penting. tidak ada wanita yang jika ditanya “pake baju warna apa hari ini” hanya menjawab “apa aja lah, asal ambil”, mereka akan menjawab “hmm, hari ini hari senin, bulan juni, tadi malem makan nasi padang, tadi pagi bangun kaki kanan duluan, rambut lagi oke, kuku baru di creambath, rambut baru pedikur, hari ini sekolah, jadi pake putih-putih!”

Tapi hal itu menjadi alasan bagi semua orang. Rakyat merasa sudah biasa jika laki-laki tidak bisa menahan emosinya, jadi kalau mereka berantem, yasudah. Rakyat merasa perempuan memang harus marah-marah kalau lagi PMS, yasudah. Rakyat merasa laki-laki pasti harus merokok, yasudah. Rakyat merasa laki-laki suka gombal, yasudah. Rakyat merasa perempuan lemah, yasudah. Rakyat merasa wanita harus suka belanja, jadi yasudah. Takdir. Takdir. Ah, semuanya excuse.

Jadi, apa alasannya kalau bukan takdir? Lihat ke pilihan-pilihan kita sebelum hari ini. Laki-laki tidak harus berantem kalau mereka lebih gampang memaafkan, kalau mereka mau mengalah. wanita tidak akan suka belanja kalau pas dia kecil wanita-wanita tua di sekitarnya tidak menghabiskan waktu dengan belanja, dan menanam bibit itu. Dia tidak akan suka belanja, jika uang yang ada dibiasakan untuk ditabung atau digunakan untuk hal lain yang lebih menyenangkan banyak orang.

Sekarang melihat ke diri saya lagi. Akhir-akhir ini, saya lebih merasa penurut. Lebih peka terhadap apa yang orang tua ingin saya lakukan, dan penurut. Ya, lebih tahan godaan, lebih tahan tidak melakukan hal-hal yang tidak berguna. Kenapa? karena bulan ramadhan? tidak.

Karena saya membiasakan diri menahan nafsu. Saya mencoba menjadi vegetarian. Dulu, saya tidak pernah berpikir akan seperti ini. Tapi sesuatu hal mengubah saya. Jerawat. Dulu saya sudah disuruh obati jerawat, segala jenis oles-oles diberikan, obat makan, tapi tidak pernah saya turuti, karena malas, repot, ga cowo banget. Tapi yang ada semua itu hanya membuat jerawat makin parah. Sampai suatu hari di bulan mei 2013. Saya berdoa dan mendapat bisikan bahwa harus veget. Pertama saya kira agar mengurangi jumlah minyak di tubuh, lumayan. Menahan untuk tidak makan daging awalnya susah sekali. Seminggu pertama tidak kuat, dan menyerah makan nasi goreng kambing. lalu lanjut lagi, tapi kali ini lebih lama, dan akhirnya saya menyerah lagi ketika kerja praktek di Kamojang yang tidak ada sayur kalau ga jam makan siang. akhirnya saya menyerah kedinginan dan makan ayam, hampir setiap hari. Tapi 2 minggu terakhir sebelum pulang dari sana, saya menyesal dan mencoba veget lagi. Harga daging yang naik seakan mendukung keputusan ini. Tahu tempe telor menjadi teman setia saya. Tapi masih aja gorengan, tapi lumayan. Setelah pulang dari Kamojang, full speed. Sayur dan tidak gorengan. 2 minggu, saya bertemu dokter kulit lagi, dan entah siapa yang berubah, saya jadi tidak kesal lagi melihat dia. Saya berjanji menurut kali ini. Dan sampai saat ini, penurutan menjadi lebih gampang dilakukan. Oles-oles pagi, siang, malam, ga serepot biasanya. ternyata, menahan nafsu terhadap daging menimbulkan penurutan. dan muka yang tidak berminyak juga.

So, choose wisely today, your future depends on it.

Pengalaman (Bukan) Adalah Guru yang Terbaik

Kalimat judul post ini pasti diketahui semua orang. Entah dari orangtuanya, entah dari guru sd, atau dari tulisan kecil yang ada di bagian bawah buku tulis sinar dunia. Jadi, apakah kalian setuju?

Banyak dari kalian pasti mengatakan sangat setuju.

Seperti yang dilakukan oleh orang pintar yang biasanya orang Cina, kalimat kalimat seperti ini sering diturunkan kepada anak-anak mereka. Kalimat-kalimat mutiara sangat banyak dalam perbendaharaan kalimat mereka. Tapi, kalimat ini bukan hanya diberikan begitu saja. Ada kalimat-kalimat lain yang mengekor di belakangnya. Petunjuk yang sebenarnya tersimpan di dalam rahasia otak para orang bijaksana ini. Mereka hanya memulainya dengan satu kalimat ini “Pengalaman adalah guru yang terbaik”. Tapi karena manusia hanya ingin yang sederhana, (semakin sederhana semakin indah, semakin mini semakin indah), oleh karena itu kalimat-kalimat setelahnya dipotong begitu saja dan tinggallah 5 kata diatas. Para filsuf tidak pernah berbicara hanya satu kalimat saja, dan setiap kali mereka menyatakan sesuatu, pastilah langsung berhadapan muka dengan muka, sehingga semua pertanyaan dan sanggahan, kritik dan saran bisa dikirimkan langsung kepada mereka tanpa menunggu perubahan dimensi ke 2 dan 4 yaitu jarak dan waktu.

Karena ingin simpel nya manusia, semua itu dihilangkan, penyebaran nasihat menjadi disederhanakan. Mereka berpikir bahwa dengan menuliskan 5 kata tersebut di bawah buku tulis Sinar Dunia, mereka bisa mengubah dunia. Tapi tidak, perlu lebih dari itu. Andai kata mereka menuliskan “Pengalaman adalah guru yang terbaik. Untuk mengetahui artinya silahkan hubungi 021-8888-9999” sungguh sangat membantu. Tidak ada kesalahpahaman dan distorsi dari setan yang akan merasuki orang-orang yang membacanya dan pesan yang dimaksudkan benar-benar tersampaikan.

Jadi apa sebenarnya kesalahan yang terjadi dan apa yang sebenarnya dimaksudkan dari nasihat diatas? Saya mempunyai banyak waktu dan saya berpikir, saya mencari referensi dan inilah yang saya temukan.

Pengalaman adalah guru yang terbaik. Pertama, pengalaman siapa? Pengalaman kita sendiri? Pengalaman orang lain? Ya, semua pengalaman bisa dijadikan pelajaran dan contoh. Tapi sering kali orang hanya memandang pesan ini dengan pengalaman diri sendiri. mereka membuat excuse bagi dirinya untuk berbuat kesalahan karena kalimat ini. Padahal sudah sering diperingati oleh orang lain yang sudah mengalaminya, tapi dengan pikiran yang dangkal, ia ingin mengalaminya sendiri dan mencoba membuktikan apa yang sudah jelas dibuktikan. Bisa dibilang manusia itu sering jatuh ke lubang yang sama karena alasan ini. Kita tidak berkembang karena tidak mau mendengar pengalaman orang lain, dan tidak mau belajar darinya. Kita hanya ingin mengalaminya sendiri, dan baru benar-benar percaya dan membuat skripsi yang sudah pernah dibuat oleh orang lain. Memilih jatuh di tempat yang sudah pernah orang lain jatuh. Percayalah, pengalaman yang dimaksud juga mencakup pengalaman orang lain.

Kedua, pengalaman bisa saja baik bisa saja buruk. Tapi manusia dengan akal yang sudah dinodai ini, hanya dapat mengingat pengalaman buruk dan susah sekali melihat pengalaman yang baik untuk waktu yang lama. Kita lebih tergerak untuk tidak melakukan sesuatu karena hal buruk yang akan terjadi kepada kita, tapi sangat susah untuk melakukan sesuatu padahal sudah dinyatakan bahwa akan ada hal indah yang kita dapat setelah melakukannya. Ini mungkin adalah kesalahan pendidikan jaman sekarang. Pada waktu kita kecil, sering kali dinasihati oleh orang tua kita dengan cara diancam. “Jangan lari, ntar mama pukul”, “kalau jatuh, nanti luka loh” dan sebagainya dan sebagainya. Tapi ada juga orang tua yang mengatakan seperti ini “duduk manis, nanti mama kasih kue”, “jangan lari-lari, nanti kita beli mainan”. Saya sebenarnya tidak tahu mana yang baik mana yang benar, karena belum merasakannya. Tapi pasti ada efek dari kalimat-kalimat itu. Kadang kita jadi melihat dunia ini sebagai sesuatu yang mengerikan, semuanya mendatangkan bahaya. Kadang kita juga hanya mau melakukan sesuatu jika ada imbalannya, gift oriented. Bagaimana seharusnya? Bukan hanya pengalaman buruk yang menjadi guru terbaik, tetapi pengalaman yang indah juga harus dibagikan ke orang lain. Bagikanlah sebanyak-banyaknya pengalaman indah kita kepada orang lain agar mereka bisa mengikuti jejak yang sudah kita buat.

Ketiga, mungkin ini salah satu cara yang digunakan setan untuk menyesatkan pikiran manusia. Guru terbaik adalah Tuhan. bukan pengalaman. Jika kita berguru kepada pengalaman, kita bisa mendapat hal yang baik dan juga lebih banyak lagi hal yang buruk. Tetapi, jika kita berguru kepada Tuhan, semua akan menjadi baik, karena Ia tau yang terbaik.

Yeremia 29:11 “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada padaKu mengenai kamu, demikianlah firman Tuhan, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan

Tidak lengkap jika tidak disertai dengan aplikasi langsung. Dan karena saya anak muda, saya akan memberikan contoh yang sangat disukai oleh anak muda. Pacaran.

Pacaran merupakan pengalaman bukan? Banyak hal yang belum kita rasakan sebelum berpacaran akan kita temui dalam masa ini. Disini saya tidak mau membicarakan kapan harus pacaran, bagaimana pacaran, apakah pacaran boleh atau tidak, tapi saya hanya ingin memberikan satu sudut pandang lain.

Pernahkah kalian ingin berpacaran dengan seseorang dan langsung saja menembaknya? Apakah kalian pernah merasa ingin merasakan pengalaman pacaran itu sendiri tanpa tuntunan siapa-siapa, atau kalaupun ada, dari nasihat teman-teman kalian yang sebaya saja? Apa kalian merasa jika kalian punya banyak pacar artinya pengalaman kalian juga banyak? Apa kalian menjadikan ketidaktahuan kalian akan sesuatu dalam hal pacaran menjadi excuse sehingga bisa berbuat salah dan kalau sudah tingkat parah sampai berbuat dosa? Pernahkah anda dilarang oleh orangtua dalam suatu hal tentang pacaran dan anda tidak mendengarnya? Pernahkah anda mengkonsultasikan pacaran dengan orang yang berpengalaman seperti orang tua anda?

Kita jawab dalam hati masing-masing

Semua itu tidak salah, saya tidak akan mengatakan mana yang salah mana yang benar, karena tertulis

1Korintus 10:23. “Segala sesuatu diperbolehkan.” Benar, tetapi bukan segala sesuatu berguna. “Segala sesuatu diperbolehkan.” Benar, tetapi bukan segala sesuatu membangun.

Ingin mencoba sesuatu sendiri memang boleh. Tapi apa itu berguna? Jika sudah ada pengalaman yang pasti yang sudah jelas terlihat akibatnya dan kita menghiraukannya dengan alasan ingin mencoba sendiri? Orang tua punya pengalaman lebih dari kita. Pengalaman buruk, baik, semua ingin dibagikan mereka kepada kita agar tidak mengulangi kesalahan yang sama dan jatuh ke lubang yang sudah penuh sesak itu.

Turutilah orang taumu, karena mereka hanya ingin yang terbaik bagimu. Siapa lagi yang dapat memberikan pelajaran hidup secara gratis dan menyenangkan selain orang tua kita sendiri? Tapi ingat, pengalaman mereka bukanlah guru yang terbaik juga. Larilah kepada Tuhan, dan Ia akan memberikan nasihat terbaik padamu. Orang tua adalah wakil Tuhan di dunia ini. Jadi, dengarkanlah pengalaman dan nasihat orang tuamu. 🙂