Butterfly Effect

pernahkah kalian menonton film Butterfly Effect? film ini bergenre sci-fi atau science fiction. kalau kalian belum pernah mendengar atau menontonnya, film ini berasal dari sebuah teori, yaitu chaos teori, begini bunyinya

It has been said something as small as the flutter of a butterfly’s wing can ultimately cause a typhoon halfway around the world. – Chaos Theory

Jadi, teori ini mengatakan tidak ada yang namanya takdir. semua terjadi karena sebuah alasan. pilihanmu pada saat ini akan berakibat sesuatu pada orang lain, yang dekat denganmu, bahkan yang jauh di belahan dunia lain. Pilihanmu pada satu titik kehidupanmu dapat mengakibatkan suatu hal terjadi padamu di masa mendatang. bisa hal baik, bisa hal buruk. Tidak harus pilihan yang besar, tapi bisa saja warna baju yang kamu pilih, pilihan kata yang kamu ucapkan, atau bahkan kaki mana yang kamu pilih untuk menginjak lantai duluan pada pagi hari setelah bangun dapat membuat hidupmu berubah.

Hidup ini dinamis, semuanya harus dipikirkan secara matang. Jadi tidak benar jika kita hanya menyerah kepada keadaan dan hidup santai. selama hidup, kita harus terus bergantung pada Tuhan, karena memilih sesuatu sangatlah susah, kita tidak dapat melihat apa hasil dari pilihan kita, namun Tuhan dapat membantu kita memilih yang terbaik.

Suatu ras di indonesia selalu berpegang pada suatu kalimat. “Masih untung …….. “. Jadi ketika sesuatu buruk terjadi, mereka melihat dari sisi positifnya selalu. saat terjadi dari motor, dan tidak terluka, mereka berkata, “untung tidak terluka“, saat terluka sedikit, “untung tidak luka parah”, saat luka parah, “untung masih hidup” saat kecelakaan menyebabkan kematian, “untung dia mati, kalau nggak, bakal menderita kesakitan selama sisa hidupnya”. Ya, berpikir seperti itu sangat baik, tapi tidak baik jika kita terus menerus memegang prinsip itu. Kita tidak akan belajar dari kesalahan. Cari tahulah mengapa kita mengalami sesuatu, jika mungkin, karena hal itu merupakan cara untuk mencegah hal yang sama terjadi di kemudian hari. Menerima suatu kejadian memang penting, tetapi belajar dari suatu kejadian lebih penting lagi.

Manusia kadang berpikir bahwa semua hal di dunia ini sudah seharusnya demikian. Sudah takdirnya. Dahulu kita melihat bahwa kawat yang ada melintas di atas rumah kita, menuju rumah tetangga kita, dan rumah lainnya, yaitu kawat listrik (sebagai seorang mahasiswa jurusan teknik tenaga listrik) sudah takdirnya dipasang bertiga-tiga. Tapi setelah belajar lebih dalam lagi, ternyata itu bukan takdir. Mereka dipasangkan bertiga-tiga bukan karena kesepian atau karena 3 adalah angka kesukaan Dirut PLN, tapi karena listrik yang mengalir, mempunyai fasa yang berbeda 120 derajat elektrik sehingga tidak dapat dibuat menjadi 1 kabel (ya kabel, tadi salah nulis kawat, kawat itu yang ga ada konduktornya, saya mengaku belum berhasil sebagai mahasiswa teknik tenaga listrik). Kenapa 120 derajat? alasannya karena paling efektif dari segi ekonomi dan segi teori. Tidak semuanya tiga fasa, ada yang enam fasa, dua belas fasa dan seorang senior saya melakukan tugas akhir 21 fasa. OMGMGMGMGM. mari kita sudahi paragraf abstrak ini.

Jadi tidak ada yang namanya takdir. Banyak alasan di masyarakat, excuse yang diterima oleh orang banyak karena gender kita. Pria dan wanita berbeda. Mereka tidak berpikir dengan cara yang sama. Alam bawah sadar mereka tidak sama. Tidak pernah kita melihat, seorang pria melihat sebuah tas dipajang di etalase dan berkata “ihh lucuuu~”. penambahan tanda “~” sangat penting. tidak ada wanita yang jika ditanya “pake baju warna apa hari ini” hanya menjawab “apa aja lah, asal ambil”, mereka akan menjawab “hmm, hari ini hari senin, bulan juni, tadi malem makan nasi padang, tadi pagi bangun kaki kanan duluan, rambut lagi oke, kuku baru di creambath, rambut baru pedikur, hari ini sekolah, jadi pake putih-putih!”

Tapi hal itu menjadi alasan bagi semua orang. Rakyat merasa sudah biasa jika laki-laki tidak bisa menahan emosinya, jadi kalau mereka berantem, yasudah. Rakyat merasa perempuan memang harus marah-marah kalau lagi PMS, yasudah. Rakyat merasa laki-laki pasti harus merokok, yasudah. Rakyat merasa laki-laki suka gombal, yasudah. Rakyat merasa perempuan lemah, yasudah. Rakyat merasa wanita harus suka belanja, jadi yasudah. Takdir. Takdir. Ah, semuanya excuse.

Jadi, apa alasannya kalau bukan takdir? Lihat ke pilihan-pilihan kita sebelum hari ini. Laki-laki tidak harus berantem kalau mereka lebih gampang memaafkan, kalau mereka mau mengalah. wanita tidak akan suka belanja kalau pas dia kecil wanita-wanita tua di sekitarnya tidak menghabiskan waktu dengan belanja, dan menanam bibit itu. Dia tidak akan suka belanja, jika uang yang ada dibiasakan untuk ditabung atau digunakan untuk hal lain yang lebih menyenangkan banyak orang.

Sekarang melihat ke diri saya lagi. Akhir-akhir ini, saya lebih merasa penurut. Lebih peka terhadap apa yang orang tua ingin saya lakukan, dan penurut. Ya, lebih tahan godaan, lebih tahan tidak melakukan hal-hal yang tidak berguna. Kenapa? karena bulan ramadhan? tidak.

Karena saya membiasakan diri menahan nafsu. Saya mencoba menjadi vegetarian. Dulu, saya tidak pernah berpikir akan seperti ini. Tapi sesuatu hal mengubah saya. Jerawat. Dulu saya sudah disuruh obati jerawat, segala jenis oles-oles diberikan, obat makan, tapi tidak pernah saya turuti, karena malas, repot, ga cowo banget. Tapi yang ada semua itu hanya membuat jerawat makin parah. Sampai suatu hari di bulan mei 2013. Saya berdoa dan mendapat bisikan bahwa harus veget. Pertama saya kira agar mengurangi jumlah minyak di tubuh, lumayan. Menahan untuk tidak makan daging awalnya susah sekali. Seminggu pertama tidak kuat, dan menyerah makan nasi goreng kambing. lalu lanjut lagi, tapi kali ini lebih lama, dan akhirnya saya menyerah lagi ketika kerja praktek di Kamojang yang tidak ada sayur kalau ga jam makan siang. akhirnya saya menyerah kedinginan dan makan ayam, hampir setiap hari. Tapi 2 minggu terakhir sebelum pulang dari sana, saya menyesal dan mencoba veget lagi. Harga daging yang naik seakan mendukung keputusan ini. Tahu tempe telor menjadi teman setia saya. Tapi masih aja gorengan, tapi lumayan. Setelah pulang dari Kamojang, full speed. Sayur dan tidak gorengan. 2 minggu, saya bertemu dokter kulit lagi, dan entah siapa yang berubah, saya jadi tidak kesal lagi melihat dia. Saya berjanji menurut kali ini. Dan sampai saat ini, penurutan menjadi lebih gampang dilakukan. Oles-oles pagi, siang, malam, ga serepot biasanya. ternyata, menahan nafsu terhadap daging menimbulkan penurutan. dan muka yang tidak berminyak juga.

So, choose wisely today, your future depends on it.

Advertisements

One comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s