Month: February 2014

Terimakasih Tuhan

Aku kembali ditempelak Tuhan. Sakit, tapi tersadarkan. Hari ini pemilihan ketua IMAB tahun 2014, dan dari dua pasang kandidat, aku sudah menduga yang mana yg akan lebih unggul, mungkin karena aku sering bersama dengan orang ini. Ya, dia adalah orang yang kusayang. 🙂 dia adalah kandidat ketua berikutnya

Entah apa yg membuatku berpikir begitu, tapi rasanya bahkan sebelum hasil diumumkan, aku sudah menyiapkan diriku untuk menerima kenyataan tersebut.

Mengapa? Terasa berat sekali. Dia yg dicalonkan, aku ikut stress. Pikiranku terbagi dua, di satu sisi aku ingin orang lain yg menang, karena aku yakin tanpa menjadi ketua pun, ia (my partner) tetap akan melakukan pelayanan yg terbaik di IMAB, ia tidak akan menghilang karena sebab yg tidak jelas. Dan kandidat yg lain itu memang terlihat lebih “imab” karena link dan kenyataan bahwa ia sudag lebih lama di imab dibanding calon pertama.

Tapi di lain sisi, aku tidak akan kecewa jika ia jadi ketua. Karena ia sendiri telah menyerahkan semuanya ke Tuhan, dan berusaha semaksimal mungkin. Ia selalu membuatku kagum dengan ke”maksimal”an nya. Aku tak berani melawan keputusan Tuhan. Dan aku merasa ia sanggup, walaupun halangan tugas kuliah memang besar sebesar gajah di kelopak mata. Tapi seperti Musa, ia mau. Aku pun mendukungnya.

Satu hal yg menjadi tempelakan yg paling keras adalah bahwa pada awalnya (sebelum hari ini) aku merasa aku yg akan capek jika ia menjadi ketua. Aku yg harus membantunya. Aku merasa semua akan menjadi beban, aku takut aku malah menjadi orang yg melemahkan semangatnya. Aku harus selalu mendukungnya. Tetapi perasaan yg sudah hilang ini, hari ini teringat kembali. Tapi, Tuhan menjawab ke khawatiranku dengan beberapa hal. Pertama, teringat bahwa memang aku dan dia sudah berdoa untuk hal ini. Kedua, setelah terpilih, seorang teman bernama Jib langsung menyatakan bahwa ia akan sedia membantu di divisi yg sangat krusial. Aku kaget, aku tertampar. Aku disadarkan bahwa banyak orang lain yg akan membantu juga. Banyak orang selain aku yg sayang juga dengan dia. Terimakasih Tuhan. Ketiga, aku sadar kata-kataku yg sombong. Aku menyangka bahwa aku lah yg akan membantunya. Aku. Bukan Tuhan. Hal ini semakin tersadar dan aku malu, aku malu ditampar berkali-kali. Maaf partner, aku sudah salah. Tuhan lah yg membantunya, Tuhanlah yg akan melancarkan jalannya dan akan mengajarnya dengan caraNya. Tuhan. Bukan aku. Tuhan. Dan terakhir, aku tertampar sangat ketika ia berkata “ingatkan aku untuk berdoa lebih banyak,
dan doakan aku selalu setiap hari”. Tugasku adalah berdoa. Berdoa. Simpel, dan bahkan terlupa olehku. Berdoa yg akan membantuku juga untuk lebih dekat pada Tuhan. Oh, Maafkan aku.

Tuhan, aku mengerti. Maafkan aku. Aku mau membantu hambaMu. Gunakan aku untuk kemuliaanMu.

Jika kamu baca tulisan ini, 🙂 aku siap menjadi pengingat dan pendoa mu. God be with you 🙂

Advertisements